.................................................

.................................................

.................................................

.................................................

Wednesday, 18 January 2023

Catatan Diskusi Tentang Kitab At Tauhid

Catatan diskusi tentang "Kitab At-Tauhid" karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab | Bagian I

Diskusi dimulai setelah ramah-tamah, pembukaan oleh Ustaz Sanif, dan sambutan oleh Ustaz Kholil selaku tuan rumah.

Dari perkenalan, tercatat perwakilan dari beberapa pesantren di area Solo dan sekitarnya
- Darussunnah Islamic Centre, Sragen 
- Ma'had Salman Al-Farisi, Karanganyar 
- Unit Ta'shil Ilmi Ponpes Darusy Syahadah, Boyolali
- Unit KMI Ponpes Ibnu Abbas, Klaten
- Ma'had Isy Karima, Karanganyar 
Yang berhalangan hadir: perwakilan dari Markaz Iqro', Solo

Sejak pertemuan pertemuan pertama ada peserta tamu, di antaranya Ustaz Miftahoel Ihsan dari Majelis Taklim Al Muzany. Peserta tamu kali ini adalah rombongan dari Ma'had Al-Muttaqin, Jepara.

Sesi I | Penulis dan latar belakang penulisan Kitab
Waktu: jam 16.58 s.d. 17.40

Presentasi pertama sebagai pengantar diskusi disampaikan oleh Ustaz Wahyu. Beliau memulai dengan biografi singkat penulis "Kitab At-Tauhid", yaitu Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab yang wafat pada tahun 1206 H.

Beliau adalah sosok yang lebih dikenal sebagai dai muslih yang banyak menulis karya di bidang akidah. Meskipun ada juga karya-karya beliau di bidang lain, seperti fikih. 

Beliau dikenal dekat dengan Mazhab Hanbali yang berkembang di Najd. Pengaruh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah cukup tampak dari beliau.

Bagian yang menarik adalah penjelasan tentang latar belakang naiknya dakwah beliau ke permukaan. Tampaknya tidak lepas dari faktor geopolitis, yaitu kekuasaan Daulah Utsmaniah yang dominan (di Syam, Hijaz, Iraq, hingga Yaman).

Sudah maklum bahwa praktik Tasawuf berkembang pesat pada era Turki Utsmani. Beliau merasa kurang "sreg" dengan beberapa praktik ibadah ketika itu, misalnya terkait bentuk pengamalan istigasah, tawasul, tabaruk, dsb.
 
Pembahasan tentang topik-topik tsb. cukup sensitif karena ada bagian yang dianggap sebagai hal yang prinsip (terkait kemurnian Tauhid). Meskipun demikian, tidak dinafikan bahwa ada hal-hal yang terbuka untuk perbedaan pendapat Ahli Ilmu terkait rincian hukumnya.

Tentang sistematika, "Kitab At-Tauhid" tersusun dari 67 bab. Di sebagian versi naskah terdapat "masa'il", namun ada perbedaan pendapat; apakah "masa'il" termasuk karya beliau atau bukan.

Penulis menuliskan matan Kitab dengan cara menukil Nas Syar'i, bahkan dalam penamaan judul bab. Ada yang menyebutkan bahwa penyusunannya mirip sistematika "Shahih Al-Bukhari". Terkadang beliau juga menegaskan kesimpulan dalam pencantuman judul bab.

Ada beberapa judul syarah (yang penting dan populer) untuk dicatat, antara lain 
1. "Fath Al-Majid" karya cucu Penulis, yaitu Syekh Abdurrahman bin Hasan,
2. "Al-Qaul Al-Mufid" karya Syekh Ibnu Utsaimin.
Beberapa syarah yang terbit belakangan (relatif) mudah didapatkan, di antaranya dua syarah Syekh Shalih Al-Fauzan

Terdapat beberapa karya baru sebagai bentuk "apresiasi" terhadap "Kitab At-Tauhid", di antaranya nazam "Ath-Thal' An-Nadhid" karya Syekh Anwar Al-Fadhfari. Ada pula buku dengan metode tanya jawab, yaitu "Al-Jami' Al-Farid" karya Syekh Abdullah Al Jarullah.

Presentasi Sesi I ditutup dengan jawaban pertanyaan seputar sanad keilmuan Syekh Ibnu Abdil Wahhab dan keabsahan penisbatan "Kitab At-Tauhid" kepada beliau. 

Yang jelas, sudah ada penelusuran yang menunjukkan bahwa sanad keilmuan beliau bersambung hingga para penghulu Hanabilah. Kitab tsb. pun telah masyhur sebagai karya beliau.

✴️

Catatan diskusi tentang "Kitab At-Tauhid" 
karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab | Bagian II

Seberapa jauh pengaruh situasi politik terhadap penulisan "Kitab At-Tauhid"? Pertanyaan ini menjadi topik awal yang mendapat respons hangat dari para peserta diskusi.
 
Ustaz Sanif menguatkan penjelasan Ustaz Wahyu sebelumnya; bahwa perkembangan Tasawuf di Najd dan Hijaz (yang berpengaruh terhadap praktik ibadah masyarakat) melatarbelakangi penulisan atau dakwah Syekh.

Kemudian Ustaz Dai menekankan urgensi memahami situasi yang menjadi latar belakang Penulis dan penulisan Kitab.

Mengapa demikian? Ada fatwa, "mulabasat", serta pertimbangan kondisional (yang belum tentu relevan untuk situasi dan kondisi yang lain). Menjadi problem ketika orang asal comot teks, apalagi yang terkait dengan darah dan kehormatan.

Jika "mulabasat" yang terkait tidak diketahui atau sulit untuk dideskripsikan, setidaknya karya-karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab (atau Aimmah Da'wah Najdiyyah secara umum) perlu disikapi secara "profesional" sebagai fakta historis.

Ustaz Dai juga mempunyai penilaian yang sama dengan Ustaz Wahyu dan Ustaz Sanif; bahwa karya-karya Syekh di bidang akidah lebih dikenal dibandingkan, misalnya, karya beliau di bidang fikih dan hadits.

Penilaian tsb. memiliki konsekuensi. Jika penjelasan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab ternyata banyak yang tidak sejalan dengan "hal-hal yang sudah mapan" dari aspek sanad ilmiah maka menjadi rawan resistensi dari pihak yang sekubu.

(Komentar saya: mungkin dari internal Hanabilah, misalnya fenomena "Al-Hanabilah Al-Judud").

Namun, diferensiasi atau spesialisasi Syekh (di bidang akidah) bisa dilihat sebagai sisi positif jika beliau punya kapasitas ilmiah seperti, misalnya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (yang diakui termasuk "Ashhabul Wujuh" di dalam Mazhab Hanbali).

Dalam konteks dakwah, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab memberikan teladan tentang kepekaan terhadap realitas dan skala kebutuhan Umat. Latar belakang yang menyertai beliau tampak dari "Lisan Al-Hal" dan "Lisan Al-Maqal".

Intinya, penting bagi dai muslih untuk responsif terhadap realitas, sebagaimana Ibnu Taimiyyah yang melakukan usaha untuk mengembalikan Umat kepada "Mashdar Talaqqi" yang sahih.

Ustaz Dai mengakhiri tanggapannya dengan catatan bahwa Syekh berpotensi terzalimi secara historis. Oleh sebab itu, perlu analisis yang tepat tentang faktor ras dan politik identitas yang mewarnai ketegangan antara Alu Su'ud dan Turki (serta hubungannya dengan "Ad-Da'wah An-Najdiyyah" secara lebih luas).

Kemudian Ustaz Wahyu merasa perlu untuk menambahkan penjelasan tentang sanad ilmiah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dan karya-karyanya.

Salah seorang yang pernah menelitinya adalah Syekh Badi', murid Abdul Haqq Al-Hasyimi. Beliau menelusuri sanad yang bersambung dari Syekh Abdurrahman bin Hasan (cucu Penulis) hingga Imam Ahmad. Lebih lengkapnya, bisa dibaca dari situs web "Alukah". 

Ustaz Kholil turut menegaskan bahwa "Kitab At-Tauhid" sulit diingkari sebagai karya Ibnu Abdil Wahhab, bahkan sanadnya sampai level "mutawatir".

✴️✴️

Catatan Diskusi tentang "Kitab At-Tauhid"
karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab | Bagian III

Marilah kita mulai membahas isi "Kitab At-Tauhid". Ustaz Kholil menyampaikan perspektifnya bahwa penyusun Kitab sudah memiliki arah (tujuan dan target) tertentu. Ini bisa dilihat dari pemilihan ayat Al-Qur'an dan Al-Hadits yang dicantumkan.

Ustaz Kholil juga menyampaikan info menarik; mengapa Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak mencantumkan hadits tentang "Bithaqah" (Kartu). Itu karena ada problem terkait hadits tersebut bagi Syekh, meskipun hadits tersebut populer dalam pembahasan kitab akidah yang lain.

Selanjutnya, Ustaz Mu'tashim bercerita bahwa beliau pernah terlibat diskusi tentang "Kitab At-Tauhid". Ada beberapa pertanyaan kritis yang diarahkan kepada Ustaz.

Sudah maklum bahwa kitab tersebut memuat kumpulan dalil dari Nas-Nas Syar'i. Mungkinkah ada potensi distorsi makna dalam penjelasan  isi sehingga tidak sebagaimana yang dimaksudkan oleh Penulis?

Penanya membandingkan dengan "Majmu' Al-Fatawi" yang tidak disusun sendiri oleh Ibnu Taimiyyah. Tertib penyusunannya menurut sistematika yang ditetapkan oleh Syekh Abdurrahman bin Qasim.

(Komentar saya: Khawatir digiring sesuai kepentingan Penyusun yang mungkin berbeda dengan arah Penulis?).

Oleh sebab itu, ada yang sampai pada level (ekstrem) tidak berani untuk menambahkan komentar ketika mengajarkan "Kitab At-Tauhid".

Ustaz Mu'tashim sendiri menambahkan keterangan bahwa potensi teks dibawa ke arah yang "berbeda" sesuai dengan "mazhab" pensyarah memang menimpa matan "Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah".

Hanya saja, Ustaz juga memberi catatan bahwa, sebenarnya, maksud Penulis tetap bisa diketahui berdasarkan prinsip "Fiqh Al-Mu'allif fi Abwabih" (Pendapat Penulis Diketahui dari Inti Bab-Bab Kitab).

Ustaz Dai menyampaikan tanggapan. Menurut Ustaz, menyampaikan syarah sesuai kebutuhan orang lain tidak harus dipermasalahkan, asalkan menyesuaikan "ithlaqat" yang ada (untuk dibawa kepada pengertian yang spesifik dan tepat).

Kemudian Ustaz Sanif, selaku pemandu diskusi, melakukan telewicara dengan Ustaz Faiz yang berhalangan hadir malam itu. Ustaz punya pengalaman mengkhatamkan berulang kali pembelajaran "Kitab At-Tauhid".

Selain merekomendasikan syarah Syekh Ibnu Utsaimin ("Al-Qaul Al-Mufid"), Ustaz Faiz menekankan urgensi dalam merinci "taqsimat" (klasifikasi) beberapa pembahasan yang penting (dan rawan dengan kontroversi), yaitu
1. tabaruk,
2. istigasah,
3. istianah,
4. meminta syafaat,
5. tawasul,
6. membangun kuburan, serta
7. perbedaan syirik akbar dan syirik asgar

Perincian hal-hal tersebut perlu dipahami agar kita bisa proporsional dalam penyikapan, baik terhadap orang maupun perbuatan.
 
✴️✴️✴️

Catatan Diskusi tentang "Kitab At-Tauhid"
karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab | Bagian IV

Sesi II | jam 20.07 sampai dengan selesai
Sesi ini dimulai setelah jeda makan malam dan salat Isya.

Kali ini saya mengkhususkan tulisan untuk merangkum penjelasan Ustaz Muhammad Kholil. Ustaz punya catatan khusus dari pengalaman mengkaji "Kitab At-Tauhid" dan "Fath Al-Majid" (syarahnya) serta karya-karya "A'immah Ad-Da'wah An-Najdiyyah".

(Saya melihat kitab "Ad-Durar As-Saniyyah", yang mungkin terkesan "angker" bagi sebagian orang, ada di rak kitab. Menurut Ustaz Burhan, jilid terakhir kitab tersebut tidak dicetak.)

Menurut Ustaz Kholil, ada hal mendasar yang perlu didiskusikan di kalangan Salafi Kontemporer. (Terkait pegangan standar dasar ketika mulai belajar akidah?). Sejauh pengamatan Ustaz, belum ditemukan (dan disepakati) matan akidah ("klasik") yang lengkap untuk pembelajaran akidah (dari A sampai Z).
 
Yang populer di kalangan mereka selama ini adalah "Kitab At-Tauhid" dan "Al-Aqidah Al-Wasithiyyah" karya Ibnu Taimiyyah. Hanya saja, pada dasarnya "Al-Aqidah Al-Wasithiyyah" adalah sebuah risalah jawaban. Adapun "Kitab At-Tauhid" adalah kitab yang sistematikanya tidak setertib kitab atau matan fikih.

(Yang saya pahami, orang yang belajar "Kitab At-Tauhid" langsung dibebani dengan banyak dalil berupa Nas-Nas Syar'i. Muatannya pun lebih banyak tentang Tauhid Uluhiah.)

Dengan "kekurangan" di atas, berarti perlu guru yang menguasai detail masalah dan syarahnya. (Ini adalah kesimpulan penting bagi yang ingin menjadikan "Kitab At-Tauhid" sebagai materi kurikulum).

Beberapa gaya penulisan syarah "Kitab At-Tauhid"

Ustaz Kholil mengklasifikasikan syarah-syarah "Kitab At-Tauhid" ke dalam empat kategori

1. Syarah dengan gaya klasik
Gaya ini diadopsi oleh Syekh Ibnu Utsaimin. Hanya saja, syarah dengan kategori ini kurang pembaruan dari sisi Falsafiyyah, Kalamiyyah, dan "pelembutan" (ibarat) yang sesuai tuntutan kekinian. Contoh: "Al-Qaul Al-Mufid".

2. Syarah Ta'shili
Gaya ini diadopsi oleh Syekh Shalih Al Asy-Syaikh. Syarah ta'shili memiliki kelebihan untuk menanamkan "fondasi yang kuat" terkait pakem keilmuan yang muktamad sebelum masuk ke dalam penjabaran masalah. Contoh: "At-Tamhid".

3. Syarah dengan gaya Syekh Sulthan Al-Umairi
Gaya beliau sangat ta'shili dan analitis. Syarah dengan kategori ini menekankan "Bina' Al-Ma'rifah" yang disesuaikan dengan perkembangan masing-masing penuntut ilmu. (Setahu saya, syarah beliau belum diterbitkan secara luas).

4. Syarh mendetail dengan banyak maklumat
Ini adalah syarah yang diadopsi oleh Syekh Ahmad Al-Hazimi (sosok yang kontroversial dalam isu "Al-Udzr bi Al-Jahl"). Syarah ini menjabarkan matan dengan pendekatan berbagai disiplin ilmu.

5. Syarah dengan gaya Syekh Shalih Al-Ushaimi
Syarah dengan kategori ini banyak diminati. Syarah yang cocok untuk pembelajaran dengan model daurah (yang biasanya tidak butuh waktu terlalu lama).

Terakhir, Ustaz Kholil menekankan kembali tentang "PR" terkait pegangan yang "tepat dan proporsional" dalam pengajaran akidah (Salafiah).

Ustaz juga mengakui bahwa dari sisi ketertiban dan kelengkapan sistematika, matan atau kitab akidah Asyariah maupun Maturidiah punya kelebihan, yaitu paket pelajaran akidahnya lengkap dari awal sampai akhir.
  
(Meskipun demikian, materi pelajaran akidah Salafiah juga punya kelebihan dibandingkan dengan materi akidah Asyariah, misalnya).

Apakah kelebihan referensi akidah Salafiah? Silakan menanti lanjutan tulisan ini

✴️✴️✴️✴️

Catatan Diskusi tentang "Kitab At-Tauhid"
karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab | Bagian V

Apa kelebihan muatan referensi Akidah Salafiah dibandingkan dengan referensi Akidah Asyariah? 

Menurut Ustaz Muhammad Kholil, referensi Akidah Salafiah lebih kuat dari sisi "ruhiyyah". Referensi Asyariah memang kuat dari sisi "jadaliyyah", tetapi kurang sensasinya dari sisi "ruhiyyah"

Fenomena di atas, sebenarnya, tidak aneh. Kalangan Asyairah memang punya pendekatan yang terpisah, yaitu tasawuf sebagai disiplin pembahasan yang terpisah tentang  "sulukiyyat". Soal "sulukiyyat" ini, disayangkan oleh Ustaz Kholil, masih kurang lengkap di dalam syarah Syekh Ibnu Utsaimin ("Al-Qaul Al-Mufid").

Ustaz Dai menambahkan keterangan tentang fenomena di atas. Menurut beliau, referensi Akidah Asyariah dan Maturidiah ditulis sebagai bentuk "respons" dari tantangan yang ada, khususnya pada waktu itu. (Misalnya, menghadapi tantangan Muktazilah).

Efek positifnya, sistematikanya rapi dan konseptual. Efek negatifnya, menjadi kurang "soft touch" dan kurang sensasinya dari sisi "ruhiyyah".

Bandingkan dengan referensi Atsariah. Begitu terasa menyentuh ruh dan berpengaruh terhadap "sulukiyyat". Namun, ada baiknya kalangan Atsari tidak cepat merasa puas dengan hal ini.

Ada "PR" bagi Atsariah untuk menyusun kitab yang cocok bukan sekadar sebagai buku kurikulum, tetapi juga sesuai dengan tuntutan zaman. Menurut Ustaz Dai, generasi baru butuh pendekatan yang "baru", logis, dan sistematis.

(Komentar saya: tampaknya ini dirasakan oleh para pemerhati diskursus akidah di Timur Tengah, yang karya-karyanya diterbitkan oleh Markaz Takween, seperti Dr. Sulthan Al-Umairi, Syekh Abdullah Al-Ujairi, Ustaz Ahmad bin Yusuf As-Sayyid, Ustaz Mahir Amir, dll.)

Kita melihat bahwa para peneliti tema akidah melakukan eksplorasi yang lebih luas terhadap persoalan "Al-Asma' wa Al-Ahkam" dan topik-topik di bawah ini.
- Ta'tsirul Asbab
- Nubuwwah
- Gha'ibiyyat
- Konsep Iman
- Karamatul Auliya'

Kemudian Ustaz Dai menambahkan keterangan Ustaz Kholil tentang tipologi syarah "Kitab At-Tauhid". Menurut beliau, perbedaan syarah perlu diklasifikasikan sesuai dengan kelengkapan (disiplin) Ilmu.

Mengapa? Pada dasarnya, tipe syarah ditulis sesuai dengan prioritas masing-masing pensyarah. Ada syarah "Kitab At-Tauhid" yang panjang sampai 2.000 hlm. Namun, ada juga penjelasan yang cukup ringkas dan bagus, di antaranya "Hasyiyah Ibn Qasim".

Ustaz Dai bahkan melihat, tidak tertutup kemungkinan "Kitab At-Tauhid" akan disyarah oleh kalangan Asyairah. (Saya pun teringat dengan syarah "Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah" versi Said Fudah dan versi Abdul Ghani Al-Ghunaimi).

Syarah oleh pihak "yang berseberangan" bukanlah hal baru. Ibnu Taimiyyah sendiri pernah mensyarah "Al-Aqidah Al-Ashbahaniyyah".

Ustaz Dai juga menyampaikan pertanyaan kritis. Aspek-aspek pembahasan akidah begitu luas. Apakah kita harus menghabiskan waktu dan energi yang sangat besar hanya untuk membahas persoalan Tauhid Uluhiah?

Pertanyaan (yang mungkin retoris) tersebut barangkali terjawab dengan melihat skala kebutuhan di lapangan. 

✴️✴️✴️✴️✴️

Catatan Diskusi tentang "Kitab At-Tauhid"
karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab | Bagian VI

Ustaz Faiz Baraja menguatkan isyarat Ustaz Dai; bahwa pelajaran akidah jangan hanya menghabiskan alokasi waktu dan tenaga untuk membahas rincian Tauhid Uluhiah. Beliau pun membenarkan kesimpulan Ustaz Dai; bahwa perlu mukadimah yang memadai sebelum mendalami rincian masalah seputar Tauhid Uluhiah.

Lebih lanjut, pembahasan Tauhid Rubbubiah juga butuh elaborasi. Contohnya, tentang "Al-I'jaz Al-Ilmi" (Mukjizat Ilmiah Al-Qur'an dan As-Sunnah). Materi tsb. diharapkan bisa menunjang dalam pemantapan keyakinan dan mendekatkan pemahaman. (Mungkin seperti ikhtiar Syekh Abdul Majid Az-Zindani dengan "Kitab Al-Iman").

Kesulitan dalam mempelajari "Kitab At-Tauhid" juga terkonfirmasi lewat "testimoni" dua orang santri senior yang mewakili Ma'had Isy Karima. Mereka mengaku kaget ketika belajar kitab tsb. setelah sebelumnya mulai belajar akidah dengan buku "muqarrar" dari kitab Syekh Shalih Al-Fauzan.

Salah seorang dari keduanya sampai pada kesimpulan bahwa perlu banyak membaca buku yang lain atau membutuhkan perangkat ilmu penunjang untuk memahami persoalan yang dibahas.

Bagi Ustaz Akhyar Abduh Dzikron, mungkin pengalaman dan kendala di atas menjadi catatan yang sangat bermanfaat. Sebagai pengelola Unit KMI di Ponpes Ibnu Abbas, beliau dkk. punya pengalaman bahwa sekadar mengajarkan "Al-Mulakhkhash" karya Syekh Shalih Al-Fauzan saja tampak berat untuk anak setingkat SMP.

Adapun untuk tingkat lanjutan setelah itu, bukan "Kitab At-Tauhid" yang dipilih, melainkan "Al-Ushul Ats-Tsalatsah" dan "Al-Qawa'id Al-Arba'" (yang juga karya Ibnu Abdil Wahhab) serta "Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah".

Kemudian giliran Ustaz Muhammad Kholil menyampaikan pengalamannya. Ustaz merasakan "beda rasa" (kesenjangan) ketika secara simultan mengajarkan matan fikih yang tidak banyak mencantumkan Nas Syar'i, sedangkan ketika mengajarkan kitab akidah justru banyak menjumpai pencantuman Nas Syar'i.

Atas dasar pengalaman, Ustaz Kholil merekomendasikan untuk mengembalikan tertib pembahasan akidah menurut skema rukun iman. Tampaknya hal ini disadari oleh Syekh Ibnu Utsaimin dengan menulis "An-Nubdzah fi Al-Aqidah" (yang ringan bagi pemula dan berbasis "Ushul Al-Iman").

Ustaz Kholil juga menginfokan referensi alternatif bagi pemula yang ingin mempelajari akidah berbasis matan (seperti matan fikih). Di antaranya adalah "Manzhumah At-Tauhid wa Al-Iman" yang disusun oleh Dr. Amir Bahjat, yang hanya terdiri dari 30 bait. Adapun mulai tahun ini Ustaz memilih untuk mengajarkan matan akidah yang ditulis Syekh Abdul Hamid bin Badis.

✴️✴️✴️✴️✴️✴️

Catatan Diskusi tentang Kitab At-Tauhid
karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab | Bagian VII

Tulisan kali ini berisi "alignment" ikhtisar dari kami yang bukan "keynote speaker" dalam diskusi tsb.

Sebagian peserta diskusi, seperti Ustaz Wahyu dan Ustaz Sa'd, menilai bahwa sebagian permasalahan fikih masuk di dalam pembahasan "Kitab At-Tauhid". Misalnya, tentang penyembelihan dan bersumpah dengan selain nama Allah.

Lebih lanjut, menurut Ustaz Sa'd, ada keterangan bahwa masuknya pembahasan fikih di dalam "Kitab At-Tauhid" dilatarbelakangi sebagian persoalan yang tersebar luas pada era Penulis.

Ustaz mengakui, sulit mencari kitab akidah yang bebas sama sekali dari pembahasan fikih. Namun, itu tidak harus dianggap sebagai problem.

Adapun menurut Ustaz Mu'tashim, sebagian persoalan memang tidak "berdiri sendiri" sebagai objek disiplin ilmu tertentu. Kemudian Ustaz Dai mengemukakan istilah "Tadakhul Al-Ulum" (istilah saya: Interdisciplinary Sharing).

Sebagai contoh, tentang penyembelihan. Dari sisi "qashd", itu masuk ranah akidah. Namun, dari sisi hukum tentang halal dan haram, itu masuk ranah fikih.

Ustaz Sanif melihat, memang sebagian teks atau "ibarat" (diksi) yang digunakan oleh penulis "Kitab At-Tauhid" tampak "jazm" (pasti; definitif). 

Menurut Ustaz, problem muncul ketika semua persoalan akidah dianggap sebagai hal yang "qath'i". Padahal, ada yang diperselisihkan (di kalangan Ahli Ilmu).

Oleh sebab itu, perlu kodifikasi pembahasan dan kesimpulan tentang hal-hal yang disepakati dan hal-hal yang diperselisihkan (ijtihadi).

Salah satu efek negatif sebagai akibat dari kesalahpahaman dalam memahami karya-karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah "ekstrem dalam pengafiran". Mungkin fenomena ini sudah diakui, bahkan dirasakan.

Hanya saja, Ustaz Dai menambahkan catatan bahwa fenomena tsb. juga berangkat dari masalah dalam pengajaran, yaitu kurang memperhatikan penanaman adab. Selain itu, perlu ikhtiar "Tazkiyyah An-Nafs" (sebagai penyeimbang).

Kemudian para pembicara utama menawarkan beberapa solusi

1. Klasifikasi Zhanniyyat dan Qath'iyyat. Menurut Ustaz Sanif, jika deskripsi masalah saja bisa didaftar maka itu sudah bagus (dan membantu).

Ustaz Wahyu menambahkan bahwa pendapat yang diyakini lebih kuat tetap boleh dijelaskan. Yang penting bisa menyikapi perbedaan ijtihadi secara proporsional.

2. Merumuskan metode pengajaran yang baik dengan memilih syarah (penjelasan) yang sesuai dengan aspek pembahasan yang ingin ditekankan. (Ini disesuaikan dengan level belajar).

3. Menertibkan proses belajar, yaitu mengiringi belajar akidah dengan belajar fikih mazhabi dan "Tazkiyyah An-Nafs" sebagai semacam "Parasetamol" (atau vaksin) untuk mengantisipasi potensi "ghulu" (sikap ekstrem).

✴️✴️✴️✴️✴️✴️✴️

Catatan Diskusi tentang "Kitab At-Tauhid"
karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab | Bagian VIII (Terakhir)

Bagian terakhir dari delapan tulisan ini difokuskan untuk membahas hal-hal yang terkait dengan pengajaran kitab akidah

Ustaz Dai mengingatkan tiga masalah (tantangan) yang perlu diperhatikan, yang berkaitan dengan tertib belajar akidah

1. Adanya pendekatan yang berbeda antara thariqah Salafi dan thariqah Mutakallim (dalam membangun fondasi Ilmu Akidah)

2. Perbedaan antara kitab sebagai "kesatuan" (yang punya latar belakang dan target spesifik) dan pembahasan masalah (tematik di bidang akidah)

3. Penjelasan masing-masing masalah itu sendiri (yang sering kali membutuhkan pengetahuan yang spesifik)

Oleh sebab itu, jika hendak mengajarkan kitab matan akidah seperti "Kitab At-Tauhid", ada beberapa model terapan dalam pengajaran yang bisa dipertimbangkan. Misalnya, merujuk kepada inti kerangka pembahasan dari bab-bab utamanya saja.

Ustaz Dai mengingatkan, konsep pendidikan (yang ideal) adalah yang cocok untuk semua orang; bukan hanya untuk orang yang pintar. Dengan demikian, perlu memperhatikan level materi; untuk tingkat dasar atau tingkat lanjut.

Selain itu, ada juga pertimbangan alokasi waktu. Bayangkan, misalnya, jika waktu efektif untuk menyampaikan materi "Kitab At-Tauhid" hanya 1,5 jam/pekan! Kira-kira akan selesai dalam waktu berapa lama?

Adapun Ustaz Muhammad Kholil menyarankan sebuah pendekatan (model "tahdzib"). Caranya: dengan cara menghimpun tematik menjadi satu, seperti syarah Al-Ujairi atau "Syarh At-Tadmuriyyah" karya Ahmad Salim.

(Komentar saya: pembahasan tematik yang sesuai dengan urutan Rukun Iman, sebagaimana yang disarankan oleh beliau, juga digunakan oleh Syekh Abdul Akhir Al-Ghunaimi di dalam "Tahdzib Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah").

Kemudian Ustaz Mu'tashim mengingatkan tentang kemungkinan sebagian kitab akidah ditulis bukan sebagai buku kurikulum. 

Ustaz Mu'tashim juga menyampaikan pengalaman menjadikan "Kitab At-Tauhid" sebagai kurikulum, minimal dari garis besar judul-judul babnya. Beliau juga setuju dengan Ustaz Kholil tentang klasifikasi pembahasan secara tematik. 

Beliau menyampaikan, "Kitab At-Tauhid" (ada baiknya) diterapkan untuk anak SMP maupun SMA. Berdasarkan pengalaman beliau, pelajar setingkat sekolah menengah masih kurang "nyantol" dengan penggunaan istilah-istilah Ushul.

Menurut beliau, "Kitab At-Tauhid" cocok untuk diajarkan kepada pelajar setingkat Ma'had Ali. Level pendidikan tsb. sudah menuntut proses berpikir karena perlu menjawab solusi di masyarakat. 

Ustaz Mu'tashim menekankan perlunya "tashwir mas'alah" dengan "taqrib" terhadap persoalan yang ada di masyarakat. Intinya, penyesuaian dengan sasaran (mad'u dan persoalan) dakwah yang akan disikapi.

Selesai

Saturday, 12 September 2015

Martabak Manis Paling Enak di Magelang

Martabak Manis Paling Enak di Magelang

Hai semua apa Kabarrr ??? Semoga hari kalian menyenangkan :)

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi resep martabak manis yang saya dapat dari kursus di BLK Magelang. Martabak Manis jika dijual sangat menjanjikan,maka ini bisa menjadi alternatif anda untuk memulai usaha dengan menjual martabak manis yang uenakkkkk tenann.

Judul : Martabak Manis

Bahan : 

500 gr terigu segitiga
100 gr gula pasir
1 sdm Baking Powder atau soda kue
6 Butir telur
600 ml air
50 gr margarin leleh
1 sdm ragi instant
garam secukupnya

Bahan pelengkap :

60 gr margarin untuk olesan
100 gr meses
100 gr kacang sangrai cincang tumbuk kasar
100 ml susu kental manis

Cara pembuatan : 

  1. Campur terigu,baking powder,gula,garam,tambahkan telur aduk sampai rata benar
  2. Tuang air sedikit demi sedikit sambil di aduk hingga tercampur rata
  3. tambahkan lelehan margarin,aduk rata
  4. diamkan 1-2 jam
  5. panaskan cetakan,dan olesi dengan margarin
  6. tuangkan adonan,biarkan berlubang sampai setengah matang,kemudian tutup. Biarkan sampai matang
  7. Olesi dengan margarin,taburi kacang,meses,susu kental manis 
  8. Hidangkan


Gambar gambar












Gambar pendukung










Bahan Toping


Penulis : Hary Prasetyo